Jalan Menuju Sang Penyendiri

Oleh:   Rooftop IV Rooftop IV   |   November 30, 2017
Jalan Menuju Sang PenyendiriSetan HD - Hai Perkenalkan namaku Sarah, Aku kemarin mendapatkan undangan untuk berkunjung ke luar kota karena beberapa hal, lalu saat aku pergi ke kota tersebut aku nampak aneh dengan suasananya, karena hanya sunyi yang menemaniku, lalu aku pergilah ke sebuah rumah sederhana untuk peristirahatan ku, ku masuk dan nampak indah di dalam daripada diluar, tak ada yang aneh saat itu hanya beberapa kursi yang sedikit tidak terawat, lalu aku masuk ke kamar yang paling dekat dengan pintu masuk, aku menaruh koper, tas dan lainnya, aku ingin keluar sejenak untuk melihat keadaan.

Aku keluar, suasana terasa dingin, karena disini daerah gunung, didekat rumah yang kutinggali ini ada sebuah mobil yang memang sudah bertahun-tahun ada disitu, alasanya karena ingin menjadikan mobil tersebut seni ke kota kecil ini. memang rumah yang kutinggali adalah yang pertama dijumpai untuk masuk ke kota kecil ini.  dan aku pun tidak memiliki tetangga di rumah ini, karna daerah pinggiran kota yang membuat akses masyarakat berbelanja jadi jauh maka mereka enggan untuk membangun rumah disini.

Aku berusaha menyibukkan diri, karna sialnya tidak ada fasilitas apa-apa disini, bahkan listrik pun tidak ada dipasang karena harganya sangat mahal, aku ingin sekali keluar untuk jalan-jalan, tapi senja pun sudah mulai muncul, aku pun masih berdiam dirumah karna bila terjadi hal yang tidak diinginkan, aku sulit mendapatkan pertolongan, aku mengunci seluruh ruangan, dan memegang tongkat besi sebagai penjagaan.

Jam sudah menunjukkan jam 9 Malam aku harus cepat tidur, tak lama ada seseorang mengetuk pintu, karna aku sendirian, aku takut, bagaimana dia bisa tau disini ada penghuni sementara tidak ada lampu hidup, dia terus mengetuk padahal sudah 15 menit lamanya, tidak ada suara lain selain ketukan tersebut, aku penasaran lalu aku mengendap-ngendap ke arah pintu dan melihat orang diluar dengan celah kecil, kulihat badannya seperti anak muda, aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar manusia, namun celah kecil tersebut tidak bisa menggapai penglihatan ke muka ataupun ke kaki, aku pun memegang erat tongkat besi dan perlahan membuka pintu, sebenarnya aku sangat berat untuk melakukannya. Dan begitu terkejutnya aku melihatnya karena sangkaan ku yang negatif menganggap ia hantu, lalu dengan nada low nya ia bilang "ini gelangnya jatuh dijalan" ,oh tuhan, bagaimana dia bisa mengetahui itu gelangku, lalu aku pun menjawab sambil ketakutan "oh iya, terima kasih.", ia menjawab "sama-sama", aku pun langsung menutup pintu karena ketakutan, oh tuhan aku begitu tak sopan.

Aku berusaha untuk tidur pada malam itu, dan keesokan paginya aku harus melanjutkan perjalanan ke pusat kota kecil ini pada jam 10 pagi, tapi sekarang masih jam 7 pagi, aku berjalan-jalan menuju arah pusat kota, tak jauh dari itu aku melihat seorang anak mudah yang kutemui malam tadi, dia seperti termenung di pinggir jurang, aku pun menghampirinya sekalian meminta maaf karna tidak sopan tadi malam telah menutup pintu padahal dia masih berdiri didepan pintu. Saat aku menuruni gunung tersebut sedikit, dia langsung menyambutku.

Pemuda tersebut bilang "Hai, sedang apa kamu disini", aku reflek menjawab "hm, aku ingin meminta maaf kepada mu soal tadi malam, aku telah tidak sopan kepadamu", pemuda tersebut menjawab "iya tidak apa, aku sering mengalami hal itu", aku merasa kepo kenapa dia merenung di tepi jurang, lalu aku menanyakan kepadanya "sedang apa kamu disini ?", pemuda tersebut menjawab "tidak, hanya melakukan kebiasaan yang tiap hari kulakukan", aku terkejut mendengar hal itu, lalu aku menanyakan kepadanya "dimana rumah mu? dimana keluargamu?, pemuda tersebut menjawab "keluarga ku tewas terbunuh di rumahku, keluargaku dibunuh, lalu aku mencari pembunuh keluargaku selama 3 tahun namun tidak membuahkan hasil, aku menyesal kenapa aku tidak terbunuh bersama keluargaku", aku langsung sedih mendengar hal itu, lalu aku bertanya "berapa lama sudah kau merenungi kejadian itu?" ia menjawab "sudah 6 tahun", aku menangis namun kututupi dengan sedikit senyuman agar ia tak ikut sedih.

Lalu aku pergi dan menyelesaikan tugasku ke pusat kota, aku sibuk dengan pekerjaan ku sampai aku jarang sekali bertemu dengan keluargaku, aku tak ingin berpisah dengan keluargaku, lalu aku mengambil cuti untuk perjalanan selanjutnya dan bertemu dengan keluargaku, aku memeluk mereka.

Sudah 4 hari berjalan, aku balik ke kota kecil itu ,sampai nya disana aku tidak menemukan pemuda tersebut, lalu aku berusaha mencari info siapa pemuda tersebut, aku menelepon pihak keamanan di kota kecil ini mereka menjelaskan "pemuda yang kau maksud tersebut adalah pembunuh keluarganya, ia tewas di jurang dekat dengan rumah yang kau tinggali", aku syok dan langsung pergi dari tempat itu, aku tidak pernah melupakan momen menyeramkan tersebut.

Tampilkan Komentar